STUDI KASUS TUNARUNGU

 

Sebut saja namanya HS berusia 20 tahun ke atas, ia seorang penyandang tunarungu, menurut sepengetahuan saya ia telah mengalami kekurangan indra pendengaran itu sejak kecil atau sejak lahir yang mengakibatkan sulit untuk melakukan komunikasi verbal di lingkungan sosial.


Kehidupan pribadinya di lingkungan masyarakat tidak seperti individu pada umumnya yang bergaul bersama individu lain, karena keterbatasan komunikasi.

Waluapun demikian ia dapat mengenali mata uang fungs dan nilainya.


Karena keterbatasannya itu ia tidak bersekolah, berbeda dengan kakanya yang normal yang bersekolah hingga menyelesaikan pendidikan sarjana dan menjadi guru honorer di salah satu instansi sekolah swasta


dalam hubungan sosial dengan masyarakat ia menggunakan bahasa isyarat dari gerak tangan dan ekspresi wajah yang ia lakukan untuk dapat memahamkan lawan bicaranya, tentunya dari masyarakatpun ada yang dapat memahaminya dan sebaliknya.


Karirnya sekarang ia bekerja di salah satu tempat pemotongan asbes dan kayu-kayu bekas untuk dijual kembali, itu yang menjadi pekerjaannya setiap hari.

Pada saat musim panen padi, ada masyarakat meminta bantuannya untuk membawakan padi hasil panen sekitar 2-5 karung dari sawah ke rumah, dengan uapah harga pasaran dari jasanya.


Dari latarbelakang keluarga ia lahir bukan dari keluarga yang miskin ataupun golongan yang kurang mampu, karena dapat dilihat track record kakanya yang dapat menempuh pendidikan sarjana.


Dalam hal keberagamaan, ia seorang yang tidak aktif dalam hal kegiatan keberagaman di lingkungan masyarakat sekitar, tentunya itu bisa diasumsikan karena ia tidak memperoleh pengetahuan tentang ilmu-ilmu agama karena keterbatasan pendengaran.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS