KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. Klasifikasi Individu Berkebutuhan Khusus
Ada banyak klasifikasi anak berkebutuhan khusus, mencakup anak-anak yang kelainan fisik, mental emosional, maupun masalah akademik.
1. Anak-Anak Berkelainan Fisik
1) Klasifikasi Anak Tunanetra
Tunanetra adalah ketidakmampuan seseorang dalam penglihatan atau tidak berfungsinya indra penglihatan. Tunanetra memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Secara pedagogis membutuhkan pelayanan pendidikan khusus dan belajarnya di sekolah. Berdasarkan tingkatannya, dibedakan atas:
a. Berdasarkan Tingkat Ketajaman Penglihatan
Seseorang dikatakan penglihatannya normal, apabila hasil tes Snellen menunjukkan ketajaman penglihatannya 20/20 atau 6/6 meter.
Sedangkan untuk seseorang yang mengalami kelainan penglihatan kategori low vision (kurang lihat), yaitu penyandang tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m. kondisi yang demikian sesungguhnya penderita masih dapat melihat dengan bantuan alat khusus.
Selanjutnya untuk seseorang yang mengalami kelainan penglihatan kategori berat, atau The blind, yaitu penyandang tunanetra yang memiliki tingkat ketajaman penglihatan 6/60m atau kurang. Untuk yang kategori berat ini masih ada dua kemungkinan,
(1) Penderita adakalanya masih dapat melihat gerakan-gerakan tangan, ataupun
(2) Hanya dapat membedakan gelap dan terang.
Sedangkan tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan dengan visus 0, sudah sama sekali tidak dapat melihat.
b. Berdasarkan Adaptasi Pedagogis
Kirk,SA (1989) mengklasifikasikan penyandang tunanetra berdasarkan kemampuan penyesuaiannya dalam pemberian layanan pendidikan khusus yang diperlukan. Klasifikasi yang dimaksud adalah :
(1). Kemampuan melihat sedang (moderate visual disability), dimana pada taraf ini mereka masih dapat melaksanakan tugas-tugas visual yang dilakukan oleh orang awas dengan menggunakan alat bantu khusus serta dengan bantuan cahaya yang cukup.
(2). Ketidakmampuan melihat taraf berat (severe visual disability). Pada taraf ini, mereka memiliki penglihatan yang kurang baik, atau kurang akurat meskipun dengan menggunakan alat bantu visual dan modifikasi, sehingga mereka membutuhkan banyak dan tenaga dalam mengerjakan tugas-tugas visual.
(3). Ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability). Pada taraf ini mereka mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-tugas visual, dan tidak dapat melakukan tugas- tugas visual yang lebih detail seperti membaca dan menulis. Untuk itu mereka sudah tidak dapat memanfaatkan penglihatannya dalam pendidikan, dan mengandalkan indra perabaan dan pendengaran dalam menempuh pendidikan.
Karakteristik Anak Tunanetra
a. Segi Fisik
Secara fisik anak-anak tunanetra, nampak sekali adanya kelainan pada organ penglihatan/mata, yang secara nyata dapat dibedakan dengan anak-anak normal pada umumnya hal ini terlihat dalam aktivitas mobilitas dan respon motorik yang merupakan umpan balik dari stimuli visual.
b. Segi Motorik
Hilangnya indera penglihatan sebenarnya tidak berpengaruh secara langsung terhadap keadaan motorik anak tunanetra, tetapi dengan hilangnya pengalaman visual menyebabkan tunanetra kurang mampu melakukan orientasi lingkungan. Sehingga tidak seperti anak-anak normal, anak tunanetra harus belajar bagaimana berjalan dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan dengan berbagai keterampilan orientasi dan mobilitas.
c. Perilaku
Kondisi tunanetra tidak secara langsung menimbulkan masalah atau penyimpangan perilaku pada diri anak, meskipun demikian hal tersebut berpengaruh pada perilakunya. Anak tunanetra sering menunjukkan perilaku
stereotip, sehingga menunjukkan perilaku yang tidak semestinya. Manifestasi perilaku tersebut dapat berupa sering menekan matanya, membuat suara dengan jarinya, menggoyang-goyangkan kepala dan badan, atau berputar- putar. Untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku tersebut dengan membantu mereka memperbanyak aktifitas, atau dengan mempergunakan strategi perilaku tertentu, seperti memberikan pujian atau alternatif pengajaran, perilaku yang lebih positif, dan sebagainya.
d. Akademik
Secara umum kemampuan akademik, anak-anak tunanetra sama seperti anak- anak normal pada umumnya. Keadaan ketunanetraan berpengaruh pada
perkembangan keterampilan akademis, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. Dengan kondisi yang demikian maka tunanetra mempergunakan berbagai alternatif media atau alat untuk membaca dan menulis, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Mereka mungkin mempergunakan huruf braille atau huruf cetak dengan berbagai alternatif ukuran. Dengan asesmen dan pembelajaran yang sesuai, tunanetra dapat mengembangkan kemampuan membaca dan menulisnya seperti teman-teman lainnya yang dapat melihat.
e. Pribadi dan Sosial
Mengingat tunanetra mempunyai keterbatasan dalam belajar melalui pengamatan dan menirukan, maka anak tunananetra sering mempunyai kesulitan dalam melakukan perilaku sosial yang benar. Sebagai akibat dari ketunanetraannya yang berpengaruh terhadap keterampilan sosial, anak tunanetra perlu mendapatkan latihan langsung dalam bidang pengembangan persahabatan, menjaga kontak mata atau orientasi wajah, penampilan postur tubuh yang baik, mempergunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajah, mempergunakan intonasi suara atau wicara dalam mengekspresikan perasaan, menyampaikan pesan yang tepat pada waktu melakukan komunikasi. Penglihatan memungkinkan kita untuk bergerak dengan leluasa dalam suatu lingkungan, tetapi tunanetra mempunyai keterbatasan dalam melakukan gerakan tersebut.
2). Klasifikasi Anak Tunarungu
Tunarungu adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau telinga seorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka mengalami hambatan atau keterbatasan merespon bunyi-bunyi yang ada disekitarnya. Tunarungu terdiri atas beberapa tingkatan kemampuan mendengar, yaitu umum dan khusus.
Ada beberapa klasifikasi anak tunarungu secara umum, yaitu:
(1) Klasifikasi umum
a. The deaf, atau tuli, yaitu penyandang tunarungu berat dan sangat berat dengan tingkatan ketulian diatas 90 dB.
b. Hard of hearing, atau kurang dengar, yaitu penyandang tunarungu ringan atau sedang, dengan derajat ketulian 20-90 dB.
(2) Klasifikasi khusus
a. Tunarungu ringan, yaitu penyandang tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 25-45 dB. Yaitu seseorang yang mengalami ketunarunguan taraf ringan, dimana ia mengalami kesulitan untuk merespon suara-suara yang datangnya agak jauh. Pada kondisi yang demikian, seorang anak secara pedagogis sudah memerlukan perhatian khusus dalam belajarnya di sekolah, misalnya dengan menempatkan tempat duduk dibagian depan, dekat dengan guru.
b. Tunarungu sedang, yaitu penyandang tunarungu yang
mengalami tingkat ketulian 46-70 dB. Yaitu seseorang yang mengalami ketunarunguan taraf sedang, dimana ia hanya dapat mengerti percakapan pada jarak 3-5 feet secara berhadapan, tetapi tidak dapat mengikuti diskusi- diskusi di kelas. Untuk anak yang mengalami ketunarunguan taraf ini memerlukan adanya alat bantu dengan (hearing aid), dan memerlukan pembinaan komunikasi, persepsi bunyi dan irama.
c. Tunarungu berat, yaitu penyandang tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 71 – 90 dB. Seseorang yang mengalami ketunarunguan taraf berat, hanya dapat merespon bunyi-bunyi dalam jarak yang sangat dekat dan diperkeras. Siswa dengan kategori ini juga memerlukan alat bantu dengar dalam mengikuti pendidikanya di sekolah. Siswa juga sangat memerlukanadanya pembinaan-pembinaan atau latihan-latihan komunikasi dan pengembangan bicaranya.
d. Tunarungu sangat berat (profound), yaitu penyandang tunarungu yang mengalami tingkat ketulian 90 dB keatas. Pada taraf ini,mungkin seseorang sudah tidak dapat merespon suara sama sekali, tetapi mungkin masih bisa merespon melalui getaran-getaran yang ada. Untuk kegiatan pendidikan dan aktivitas lainnya, penyandang tunarungu kategori ini lebih mengandalkan kemampuan visual atau penglihatannya.
Karakteristik Anak Tunarungu
a. Segi Fisik
(1). Cara berjalannya kaku dan agak membungkuk. Akibat terjadinya permasalahan pada organ keseimbangan pada telinga, menyebabkan anak-anak tunarungu mengalami kekurangseimbangan dalam aktivitas fisiknya.
(2). Pernapasannya pendek, dan tidak teratur. Anak-anak tunarungu tidak
pernah mendengarkan suara-suara dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana bersuara atau mengucapkan kata-kata dengan intonasi yang baik, sehingga mereka juga tidak terbiasa mengatur pernapasannya dengan baik, khususnya dalam berbicara.
(3). Cara melihatnya agak beringas. Penglihatan merupakan salah satu indra yang paling dominan bagi anak-anak penyandang tunarungu, dimana sebagian besar pengalamanannya diperoleh melalui penglihatan. Oleh karena itu anak-anak tunarungu juga dikenal sebagai anak visual, sehingga cara melihatpun selalu menunjukkan keingintahuan yang besar dan terlihat beringas.
b. Segi Bahasa
(1) Miskin akan kosa kata
(2) Sulit mengartikan kata-kata yang mengandung ungkapan, atau idiomatic
(3) Tata bahasanya kurang teratur
c. Intelektual
(1) Kemampuan intelektualnya normal. Pada dasarnya anak-anak tunarungu tidak mengalami permasalahan dalam segi intelektual. Namun akibat keterbatasan dalam berkomunikasi dan berbahasa, perkembangan intelektual menjadi lamban.
(2) Perkembangan akademiknya lamban akibat keterbatasan bahasa.
Seiring terjadinya kelambanan dalam perkembangan intelektualnya akibat adanya hambatan dalam berkomunikasi, maka dalam segi akademiknya juga mengalami keterlambatan.
d. Sosial-emosional
(1) Sering merasa curiga dan syak wasangka. Sikap seperti ini terjadi
akibat adanya kelainan fungsi pendengarannya. Mereka tidak dapat memahami apa yang dibicarakan orang lain, sehingga anak-anak tunarungu menjadi mudah merasa curiga.
Pandangan Agama Tentang Anak Berkebutuhan Khusus
Setiap anak adalah istimewa dan setiap anak diamanahkan oleh Allah SWT. Kepada orang tua mereka untuk diasuh dengan penuh cinta dan kasih syanag. Demikian pula anak-anak yang tergolong berkebutuhan khusus, mereka pun layaknya anak lain yang perlu bimbingan, asuhan, dan pendidikan agar tumbuh secara optimal dan maksimal. Tumbuh menjadi pribadi berkarakter yang mampu mandiri serta diterima oleh masyarakat. Bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang memang sulit untuk belajar mandiri karena keterbatasan fisik dan psikis, peran orang tua seutuhnya diperlukan bagi keberlangsungan hidup mereka.
Flower dalam bukunya yang berjudul Dictionary of Modern English Usage mengatakan bahwa kelainan merupakan anak yang memiliki kekurangan terhadap keadaan mental dan fisik. Dalam buku yang berjudul Oxford English Dictionary tahun 1983 memberikan pengertian tentang kelainan secara umum, antara lain seorang anak yang kurang dapat mendengar dan berbicara disebut anak tunarungu. Sementara itu, seorang anak dengan kelainan fisik disebut tunadaksa.
Mereka mempunyai masalah sebagai anak dengan karakteritik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya, tanpa selalu menunjukkan pada kemampuan mental, emosi, atau fisik. Hal ini juga telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terutama pasal 5 ayat (2), bahwa warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, menjelaskan untuk memuliakan siapa saja tanpa harus melihat fisik yang sempurna. Keterbatasan dan perbedaan hendaknya jangan dijadikan pemicu munculnya pertentangan dan perselisihan, tetapi harus memahami bahwa manusia diciptakan dalam satu jenis yang sama, perbedaan yang tampak dihadapan Allah SWT lebih tertuju pada seberapa tinggi tingkat ketaatan dalam beribadah kepada-Nya.
Referensi :
Nasyatul dan Sani. 2021. Klasifikasi Dan Karakteristik Individu Berkebutuhan Khusu. Makalah. Dalam: Presentasi, 27 Maret.
Rahmitha. 2011. Orang Tua dengan Anak yang Berkebutuhan Khusus. Kementrian Pendidikan Nasional
Zaitun. 2017. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Pekan Baru: Kreasi Edukasi
Komentar
Posting Komentar