KONSEP DASAR KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS

 KONSEP DASAR KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. Pengertian Konseling Berkebutuhan Khusus

Dalam pandangan lain (Brammer, 1993: Egan 1990) mendefinisikan konseling sebagai suatu proses dimana klien belajar bagaimana membuat keputusan dan merumuskan cara-cara baru dalam berperilaku, merasakan, dan berpikir. Konselor memfokuskan pada tujuan klien mereka agar dapat tercapai. Klien mengeksplorasi tingkat fungsi dan perubahan mereka yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu secara pribadi. Dengan demikian konseling melibatkan pilihan dan perubahan, berkembang melalui tahap yang berbeda seperti eksplorasi, penetapan tujuan dan tindakan.


B. Faktor Penyebab Anak Berkebutuhan Khusus

Penyebab anak berkebutuhan khusus terjadi dalam beberapa periode kehidupan anak, yaitu:

1. Sebelum Kelahiran

Penyebab yang terjadi sebelum kelahiran, dalam hal ini berarti ketika anak dalam kandungan terkadang tidak disadari oleh ibu hamil. Faktor-faktor tersebut antara lain:

a. Gangguan Genetika: Kelainan Kromosom, Transformasi

Kelainan kromosom kerap diungkap dokter sebagai penyebab keguguran, bayi meninggal sesaat setelah dilahirkan maupun bayi yang dilahirkan sindrom down. 

b. Infeksi Kehamilan

Infeksi saat hamil dapat mengakibatkan cacat pada janin. Penyebabnya adalah parasit golongan protozoa yang terdapat pada binatang seperti kucing, anjing, burung dan tikus. Gejala umumnya seperti demam, flu dan pembengkakan kelenjar getah bening. Faktor ini bisa terjadi dikarenakan makanan atau penyakit, atau bisa terjadi karena adanya penyakit tertentu dalam kandungan si ibu hamil.

Infeksi karena penyakit kotor (penyakit kelamin yang diderita ayah atau ibu sehingga mempengaruhi janin dalam kandungan), toxoplasmosis (virus dari bulu kucing), trachoma dan tumor. Tumor dapat terjadi pada otak yang berhubungan dengan indera penglihatan akibatnya kerusakan pada bola mata dan kerusakan pada selaput gendang telinga.

c. Usia Ibu Hamil (High Risk Group)

Ada beberapa hal yang menyebabkan ibu beresiko hamil, seperti riwayat kehamilan dan persalinan yang sebelumnya kurang baik (keguguran, pendarahan pasca kelahiran, lahir mati), berat badan ibu hamil kurang, jarak antara dua kehamilan kurang dari 2 tahun, ibu menderita anemia, tekanan darah meninggi dan sakit kepala hebat dan adanya bengkak pada tungkai, kelainan letak janin, bentuk panggul ibu tidak normal, riwayat penyakit kronik seperti diabetes, darah tinggi, asma, dll.

d. Keracunan Saat Hamil

Keracuanan darah (Toxaenia) pada ibu hamil dapat menyebabkan janin tidak dapat memperoleh oksigen secara maksimal sehingga mempengaruhi pertumbuhan syaraf-syaraf di otak yang dapat menyababkan gangguan pada sistem syaraf dan ketunaan pada bayi.

Keracunan saat hamil sering disebut Preeclampsia atau toxemia adalah suatu gangguan yang muncul pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Gejala yang umum adalah tingginya tekanan darah, pembengkakan yang tak kunjung sembuh, tigginya jumlah protein di urin. Resiko lebih tinggi terjadi pada wanita yang memiliki banyak anak, ibu hamil usia remaja dan wanita hamil di atas usia 40 tahun. Penyebab sesungguhnya belum diketahui secara pasti. 

e. Pengguguran

Gugur kandungan atau aborsi artinya berhentinya kehamilan sebelum usia 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Penyebab pengguguran kandungan antara lain kelainan ovum (kelainan kromosom), Penyakit ibu (infeksi akut, kelainan endokrin, trauma, kelainan kandungan), kelainan plasenta, gangguan hormonal dan abortus buatan (sengaja digugurkan).

f. Lahir Prematur

Menurut Dr Suyanti, Sp.OG spesialis kebidanan dan kandungan RS Budi Kemuliaan, bayi prematur adalah bayi yang lahir kurang bulan menurut masa gestasinya atau usia kehamilannya. Masa gestasi normal adalah 38-40 minggu.


g. Kekurangan Vitamin atau Kelebihan Zat Besi

Kekurangan vitamin atau kelebihan zat besi dapat menyebabkan ibu hamil keracunan yang mengakibatkan kelainan pada janin seperti menyebabkan gangguan pada mata. Selain itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada otak sehingga menyebabkan terganggu fungsi berfikirnya atau verbal komunikasi, kerusakan pada organ telinga sehingga hilangnya fungsi pendengaran.



2. Selama Proses Kelahiran 

Proses kelahiran hanya terjadi beberapa saat, namun penanganan yang tidak tepat pada saat proses kelahiran dapat membawa dampak yang cukup menentukan dalam perkembangan anak. Beberapa proses kelahiran yang dapat menyebabkan anak berkebutuhan khusus antara lain:

a. Proses Kelahiran Lama (Anoxia), Prematur, Kekurangan Oksigen

Tanda-tanda bayi lahir prematur sama seperti bayi lahir normal, hanya saja proses pelahirannya lebih awal dari seharusnya. Proses lahiran yang lama dapat mengakibatkan bayi kekurangan oksigen.

Penyebab bayi lahir prematur terbagi dalam dua hal yaitu dari sang ibu dan bayi itu sendiri. Sebab yang berasal dari ibu antara lain pernah mengalami keguguran, kondisi mulut rahim lemah sehingga rahim akan terbuka sebelum usia kehamilan mencapai 38 minggu, si ibu menderita penyakit (jantung, darah tinggi, kencing manis, gondok), ibu yang sangat muda (kurang dari 16 tahun) dan terlalu tua (lebih dari 35 tahun). Sebab yang berasal dari bayi sendiri antara lain bayi dalam kandungan berat badannya kurang dari 2,5 kg, kurang gizi, posisi bayi dalam keadaan sungsang.

b. Kelahiran dengan Alat Bantu (Vacum)

Vacum adalah suatu persalinan buatan dengan cara menghisap bayi agar keluar lebih cepat. Vacum ini dikhawatirkan membuat kepala bayi terjepit sehingga akan terjadi kecelakaan otak atau gangguan pada otak.

c. Kehamilan Terlalu Lama (>40 minggu)

Kehamilan yang terlalu lama dikhawatirkan membuat keadaan bayi di dalam rahim mengalami kelainan dan keracunan air ketuban. Jika usia kandungan sudah melewati masa melahirkan dianjurkan pada ibu hamil untuk segera melahirkan dengan cara yang memungkinkan sesuai kondisi ibu dan bayi.


3. Setelah Kelahiran

Setelah proses kelahiran pun tidak otomatis bayi aman dari kelainan yang mengakibatkan anak menjadi berkebutuhan khusus, beberapa hal yang menyebabkan anak berkebutuhan khusus antara lain:

a. Penyakit Infeksi Bakteri (TBC), Virus

Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium Tuberkulosa yang menyerang paru-paru. Setelah proses kelahiran, bayi dikhawatirkan terserang bakteri atau virus yang dapat menyebabkan penyakit tertentu dan menyebabkan kelainan pada anak secara fisik maupun mental. 

b. Kekurangan Zat Makanan (Gizi, Nutrisi)

Gizi merupakan unsur yang sangat penting di dalam tubuh. Jika bayi mengalami kekurangan gizi, maka ada kemungkinan bayi atau anak menderita kelainan seperti kelainan fisik, mental bahkan perilaku. Maka dari itu, gizi harus dipenuhi setelah anak lahir baik dari ASI dan juga nutrisi makanannya.

c. Kecelakaan 

Umumnya kecelakaan yang terjadi karena jatuh, tergores benda tajam, tersedak, tercekik atau tanpa sengaja menelan obat-obatan dan bahan kimia yang diletakkan di sembarang tempat yang disebabkan kelalaian orang dewasa di sekitarnya.

d.Keracunan 

Bahaya keracunan yang sering terjadi pada anak adalah menelan obat berlebihan (overdosis) karena orang tua menaruh obat sembarangan. Potensi keracunan lainnya adalah menelan berbagai macam jenis cairan seperti cairan kosmetik, cairan pembersih, cairan pembasmi serangga dan bahan beracun lainnya.


C. Hak dan Kewajiban Anak Berkebutuhan Khusus

Hak Anak Berkebutuhan Khusus

Setiap anak berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial atau memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa berhak mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan tertentu di setiap jenjang pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. 

Menurut Dedy Kustawan (2012: 35-36) hak peserta didik tersebut adalah:

a. Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agamayang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.

b. Memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, kecerdasan dan kebutuhan khususnya.

Memperoleh bantuan fasilitas belajar, beasiswa atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku.

c. Diterima di sekolah umum atau kejuruan.

d. Pindah ke jalur, jenjang atau satuan pendidikan lain yang sederajat atau melanjutkan ke jalur, jenjang atau satuan pendidikan yang lebih tinggi.

e. Mendapatkan layanan pembelajaran dan penilaian hasil belajar yang disesuaikan dengan kemampuannya.

f. Memperoleh jaminan hukum yang sama seperti anak pada umumnya.


Kewajiban Anak Berkebutuhan Khusus

Menurut Dedy Kustawan (2013: 36) dalam rangka menjaga norma-norma pendidikan melalui bimbingan, keteladanan dan pembiasaan, setiap anak berkebutuhan khusus berkewajiban:

a. Menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya.

b. Mengikuti proses pembelajaran dengan menjunjung tinggi nilai-nilai etika, norma dan peraturan yang berlaku sesuai dengan kemampuannya.


Referensi 

Jubaidah dan Ai Nurfaizah. 2021. Konsep Dasar Konseling Berkebutuhan Khusus. Makalah. Dalam: Presentasi, 18 Maret.

Zaitun. 2017. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Pekan Baru: Kreasi Edukasi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS